Beranda / Berita Umum / Melangkah Keluar Kelas, Menyentuh Dunia: Catatan Overseas SDS IT SAMBA TARUMA di Kuala Lumpur

Melangkah Keluar Kelas, Menyentuh Dunia: Catatan Overseas SDS IT SAMBA TARUMA di Kuala Lumpur

Dokumentasi sebelum berangkat ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta

KUALA LUMPUR — Pendidikan sejatinya tidak selalu lahir dari papan tulis dan bangku kelas. Ia tumbuh ketika seorang anak berani melangkah keluar dari rutinitas, menatap dunia yang lebih luas dan mengalami sendiri apa yang selama ini hanya mereka dengar dari cerita. Itulah yang terjadi pada anak-anak SDS IT SAMBA TARUMA dalam program overseas go to Kuala Lumpur selama empat hari tiga malam, 7 hingga 10 Januari 2026.

Perjalanan ini bukan sekadar agenda wisata sekolah. Ia adalah upaya sadar untuk memindahkan ruang belajar—dari kelas yang terbatas dinding menjadi kota yang hidup, bergerak dan penuh perjumpaan makna. Di setiap langkah kaki para siswa, tersimpan proses pembentukan cara berpikir, keberanian bersikap, dan kepekaan melihat dunia.

Dokumentasi foto bersama di bawah twin towers Malaysia

Langkah pertama mereka menyentuh jantung modernitas Asia Tenggara di Menara Kembar Petronas. Dua bangunan raksasa itu bukan hanya simbol kemajuan teknologi, tetapi juga pengingat diam bahwa sesuatu yang tinggi tidak pernah lahir dari niat yang setengah-setengah. Di sana, anak-anak belajar membaca pesan tanpa narasi bahwa mimpi membutuhkan struktur, disiplin dan waktu.

Dokumentasi di Genting Highland, setelah membeli tiket untuk naik kereta gantung

Dari pusat kota, perjalanan beranjak ke Genting Highlands. Jalan berkelok, udara dingin, dan ketinggian mengajarkan pelajaran yang tidak tertulis di buku pelajaran—tentang ketenangan, tentang menghadapi rasa takut dan tentang keberanian untuk terus bergerak meski tidak selalu tahu apa yang menanti di depan. Bagi anak-anak, pengalaman ini diam-diam membangun kepercayaan diri bahwa mereka mampu menghadapi hal baru selama mau melangkah.

Dokumentasi perjalanan menuju bukit bintang menggunakan monorel

Di Bukit Bintang, denyut kota menyajikan pelajaran sosial yang lebih kompleks. Ragam manusia, bahasa, budaya dan ritme hidup berkelindan dalam satu ruang. Anak-anak menyaksikan langsung bahwa dunia tidak tunggal, tidak seragam dan tidak berjalan dengan cara yang sama seperti lingkungan mereka sehari-hari. Dari sini, toleransi dan keterbukaan mulai menemukan bentuk nyatanya.

Dokumentasi di dalam petrosains

Sementara itu, kunjungan ke Petrosains Discovery Centre menghadirkan sisi lain pembelajaran. Sains tidak lagi hadir sebagai rumus yang kaku, tetapi sebagai pengalaman yang bisa disentuh, dicoba dan dipahami dengan rasa ingin tahu. Anak-anak tidak sekadar belajar tentang ilmu pengetahuan, tetapi belajar bagaimana cara bertanya—sebuah keterampilan dasar yang menentukan masa depan pendidikan mereka.

Empat hari mungkin terdengar singkat dalam kalender, tetapi tidak dalam ingatan. Perjalanan ini meninggalkan bekas yang tidak kasat mata namun mendalam. Anak-anak pulang dengan cerita, sudut pandang baru dan kesadaran bahwa dunia lebih luas dari apa yang selama ini mereka bayangkan.

Di titik inilah pesan utama perjalanan ini menemukan maknanya, kadang pikiran dan pengalaman sangat terikat oleh langkah. Anak yang tidak pernah melangkah akan sulit memperluas pikirannya. Sebaliknya, satu langkah kecil—jika dijalani dengan kesadaran—dapat membuka pengalaman yang mengubah cara melihat hidup.

Program overseas SDS IT SAMBA TARUMA telah menanamkan satu hal penting sejak dini bahwa belajar bukan hanya tentang menghafal, tetapi tentang berani bergerak, mengalami dan memahami dunia secara langsung. Dan dari langkah-langkah kecil itulah, masa depan perlahan disusun.

 

 

Kontributor: AS

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *