Ilustrasi puasa ular vs ulat
Ular dan ulat dalam fase hidupnya sama-sama menjalani puasa. Namun terdapat perbedaan ‘hasil’ dari puasanya. Puasa ular hanya menghasilkan pergantian kulit. Ular tetap saja ular dengan karakternya yakni berbisa dan berbahaya bagi manusia.
Berbeda dengan ulat. Setelah puasa dalam kepompong, ulat berubah menjadi kupu-kupu yang cantik. Tidak hanya secara fisik perubahan terjadi tapi juga karakternya. Jika saat masih berwujud ulat, ia adalah musuh tumbuh-tumbuhan karena memakan daun dengan sangat rakus. Namun setelah berubah menjadi kupu-kupu, ia menjadi sahabat tumbuh-tumbuhan karena membantu penyerbukan dan bahkan menambah keindahan tumbuh-tumbuhan yang ada.
Dari dua mahluk tersebut di atas telah melahirkan suatu refleksi tentang puasanya orang-orang yang secara khusus sebagai umat muslim, telah melakukan puasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan. Puasa yang dijalani oleh umat Islam pada bulan Ramadhan ini juga bisa seperti ular atau ulat. Jika puasanya hanya sekadar ritual rutin belaka, saat lebaran hanya memakai baju baru tanpa ada perubahan akhlak, perubahan pemikiran yang lebih baik. Itu tipe puasa ular. Jadi hanya menggugurkan kewajiban saja.
Puasa tipe ulat diperoleh jika selama puasa juga melatih pembiasaan akhlaqul karimah. Seluruh panca indera, pikiran dan hati berpuasa dari dosa dan maksiat. Lalu memperbanyak amal shaleh melalui berbagi dan peduli kepada kaum dhuafa. Setelah selesai puasa, diharapkan menjadi karakter baik yang sudah menjadi kebiasaan baru, tabiat baru. Maka itulah puasa tipe ulat karena berubah menjadi lebih baik. Kebiasaan baik yang menjadi karakter, tidak akan bisa terwujud jika hanya karena dorongan kewajiban belaka. Akhlak yang baik akan kokoh tumbuh pada diri jika didasarkan pada kesadaran yang dibangun oleh iman dan ilmu. Iman berarti keyakinan yang kokoh khususnya pada Allah SWT.
Sudah menjadi logika universal bahwa manusia menyenangi kebenaran, kebaikan dan keindahan. Seseorang yang memiliki akhlak mulia seperti jujur, menghargai orang lain, santun, penyantun, mampu menahan amarah dan pemaaf akan banyak disenangi oleh orang lain. Itu semua merupakan ciri orang bertakwa yang merupakan tujuan puasa.
Pada akhirnya bagaimana kita merefleksikan pasca puasa di bulan Ramadhan ini akan tercermin dalam kehidupan sehari-hari, apakah puasanya ular atau ulat sebagai suatu Pelajaran, maka pilihan terbaik adalah komitmen kita kepada ahlakul karimah.
Disadur dari berbagai sumber.
AS






